RSS

Kemiskinan & Kelaparan di Indonesia

16 Apr

– Upaya ‘Bandung Peduli’ untuk Turut Mengatasinya
PALING sedikit 23,63 juta penduduk Indonesia terancam kelaparan saat ini, di antaranya 4,35 juta tinggal di Jawa Barat. Ancaman kelaparan ini akan semakin berat, dan jumlahnya akan bertambah banyak, seiring dengan Mereka yang terancam kelaparan adalah penduduk yang pengeluaran per kapita sebulannya di bawah Rp 30.000,00.
Di antara orang-orang yang terancam kelaparan, sebanyak 272.198 penduduk Indonesia, berada dalam keadaan paling mengkhawatirkan. Dari jumlah itu, sebanyak 50.333 berasal dari Jawa Barat, di antaranya 10.430 orang tinggal di Kabupaten Bandung dan 15.334 orang tinggal di Kabupaten Garut. Mereka yang digolongkan terancam kelaparan dengan keadaan paling mengkhawatirkan adalah penduduk yang pengeluaran per kapitanya di bawah Rp 15.000,00 sebulan.
Angka-angka ancaman kelaparan itu dapat disimak dalam laporan Survei Sosial Ekonomi Nasional 1996 dalam buku “Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia 1996” yang dipublikasikan Biro Pusat Statistik, dan buku “Data Sosial Ekonomi Masyarakat Jawa Barat Tahun 1996” yang dipublikasikan Kantor Statistik Provinsi Jawa Barat.
Karena data dalam laporan itu diperoleh pada tahun 1996, saat Indonesia belum terpuruk dalam krisis ekonomi, maka sudah selayaknya perlu disimak dengan lebh hati-hati. Salah satu rambu kehati-hatian yang diperlukan adalah keadaan Indonesia saat ini yang ditandai dengan meroketnya harga, sedangkan pendapatan penduduk merosot yang antara lain disebabkan oleh banyaknya orang yang terkena PHK. Ada kemungkinan angka tahun 1996 itu lebih baik daripada keadaan Indonesia 1998. (Pada saat makalah ini ditulis, penulis belum membaca buku “Statistik Kesejahteraan Rakyat 1997” yang diterbitkan BPS, Maret 1998).
Dalam keadaan yang begitu berat, sebagian penduduk Indonesia terpaksa mengais sah untuk mempertahankan hidupnya, seperti terpang dalam cover majalah internasional Newsweek, 27 Juli 1998, dan Pikiran Rakyat, 6 Agustus 1998.
Angka Kemiskinan di Indonesia dan Jawa Barat
SEBELUM Indonesia terperosok ke dalam krisis ekonomi, jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan “hanya” 22,5 juta. Oleh karena pemerintahan Orde Baru gagal menanggulangi krisis ekonomi, maka jumlah orang miskin membengkak menjadi 78,9 juta. Keadaan ini memaksa Soeharto, lengser keprabon. Ini adalah angka kemiskinan versi BPS.
Bila berpatokan pada angka kemiskinan BPS ini, maka jumlah orang miskin di Jawa Barat sekitar 14,85 juta, yang di antaranya 1,19 juta tinggal di Kabupaten Bandung, dan 284.000 orang tinggal di Kotamadya Bandung. (Angka-angka tentang orang miskin di Jawa Barat pada tiap Dati II dapat disimak pada tabel 6).
Ada kemungkinan angka kemiskinan versi BPS terlalu kecil, apalagi bila pengukuran kemiskinan itu menggunakan patokan pengeluaran rumah tangga “ekuivalen nilai tukar beras” (dalam kg/orang/bulan). Bila mengacu pada tulisan Prof. Dr. Sajogyo, “Garis Kemiskinan dan Kebutuhan Minimum Pangan” (Yogyakarta, Aditya Media, 1996), maka yang digolongkan miskin adalah orang yang pengeluaran rumahtangganya sama dengan, atau di bawah 320 kg/orang/tahun untuk perdesaan, dan 480 kg/orang/tahun untuk perkotaan.
(Sebagai perbandingan, dalam “Statistik Indonesia 1996” yang diterbitkan BPS Pusat, garis kemiskinan di daerah perkotaan Rp 38.246,00 dan di daerah pedesaan Rp 27.413,00 per bulan per kapita). Oleh karena pada tahun 1996 harga eceran beras di pasar bebas sekitar Rp 1.000,00/kg, maka garis kemiskinan orang kota itu setara 38 kg/bulan/kapita, sedangkan orang desa setara 27,5 kg/bulan/kapita).
Jika patokan “ekuivalen nilai tukar beras” ini dipakai untuk menentukan garis kemiskinan, maka jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 116,2 juta, sebanyak 37,6 juta tinggal di kota dan 78,6 juta tinggal di desa. Sedangkan orang yang terancam kelaparan di Indonesia menjadi 33,57 juta. Perlu dicatat bahwa nilai tukar beras dalam perhitungan ini adalah Rp 2.000,00/kg (harga tanggal 5 Agustus 1998). Dan hari-hari terakhir ini harga beras sudah mencapai Rp 4.000,00/kg. Jika dihitung dengan harga beras 4.000,00/kg berapa puluh juta lagi manusia Indonesia yang tergolong miskin? Dalam keadaan krisis seperti ini, kita tak perlu berdebat mengenai angka kemiskinan mana yang lebih benar. Angka yang dikeluarkan BPS saja sudah mengerikan, apalagi bila kita menggunakan ukuran-ukuran yang lain.
Informasi dan Penyelamatan
MASALAH kelaparan dan kemiskinan di Indonesia itu sangat mengerikan, lebih-lebih karena menimpa saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Adalah kewajiban kita untuk menghindarkan masyarakat Indonesia dari kelaparan, jangan sai gambaran penderitaan kelaparan yang terjadi di Afrika menimpa Indonesia.
Salah satu kunci utama untuk menghindarkan penderitaan itu menjadi musibah lebih berat adalah keterbukaan dan kelancaran informasi tentang kelaparan dan kemiskinan di tiap daerah. Tajukrencana “Pikiran Rakyat”, 10 Februari 1998 menulis:
“Pemerintah daerah, masyarakat sekitar tak perlu malu, jika ada warganya yang menderita kelaparan. Pemerintah daerah dan masyarakat tak perlu menutup-nutupi kenyataan pahit ini, tapi justru membukanya agar seluruh potensi dalam bangsa kita saling bahu membahu bergotong royong untuk saling tolong menolong. Kita tak perlu malu, karena sekarang ini adalah tahun-tahun musibah. Tahun 1997, Indonesia mengalami musim kemarau yang panjang, hutan-hutan terbakar, krisis moneter, dan banyaknya pemutusan hubungan kerja. Dak dari seluruh musibah itu mulai terasa sekarang, apalagi krisis moneter masih terus berlanjut, sehingga seluruh bahan makanan naik harganya. Kita tak perlu malu, karena ini adalah kenyataan yang harus kita hadapi bersama. Menutup-nutupi masalah ini berarti membiarkan sebagian masyarakat kita yang menderita tambah menderita sai ke ajal, tanpa pertolongan…”
Untuk itu, apabila ada Ketua RT atau RW yang berbicara bahwa ada warganya yang kelaparan, janganlah dihardik, diinterogasi dan ditakut-takuti. Justru bawalah bantuan dan langsung berikan kepada orang yang kelaparan, seperti yang dikatakan Ketua RT dan RW tersebut. Dengan demikian upaya penyelamatan bisa berlangsungdengan cepat. Upaya penyelamatan ini bisa bersifat sporadis dan temporer, tapi bisa juga bersifat permanen.
Bandung Peduli – Gerakan Kemanusiaan
ATAS dasar keprihatinan di atas, Bandung Peduli dibentuk tanggal 23 – 25 Februari 1998. Bandung Peduli adalah gerakan kemanusiaan yang memfokuskan kegiatannya pada upaya menolong orang kelaparan, dan mengentaskan orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam melakukan kegiatan, Bandung Peduli berpegang teguh pada wawasan kemanusiaan, tanpa mengindahkan perbedaan suku, ras, agama, kepercayaan, ataupun haluan politik.
Sejak didirikan sai tanggal 16 Agustus 1998, Bandung Peduli telah mengirimkan bantuan kepada orang-orang yang berhak sebanyak 9 kali, di Kecamatan Dayeuhkolot, Majalaya, Paseh, Rancaekek, Cicalengka, Ciparay, Cimahi, dan Ibun. Adapun bantuan yang diberikan berupa 27.220 kg beras, 20.30 kg gula, 589 liter minyak goreng, dan 1.725 ons ikan asin. Bantuan yang dibagikan berasal dari para dermawan, yang berasal dari Bandung, Jakarta, Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan beberapa perorangan yang tak mau disebut namanya.
Oleh karena sumbangan dari para dermawan tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan permasalahan kelaparan dan kemiskinan yang dihadapi, maka Bandung Peduli melakukan targetting dengan sasaran bahwa orang yang dibantu tinggal di Kabupaten/Kotamadya Bandung, dan mereka yang tergolong fakir. Golongan fakir yang dimaksud adalah orang yang miskin sekali dan paling miskin bila diukur dengan “Ekuivalen Nilai Tukar Beras”.
Golongan Fakir*) dan Miskin
Diukur dengan “Ekuivalen Nilai Tukar Beras”
(dalam kg/orang/tahun)
Desa Kota
Miskin 320 480
Miskin Sekali 240 380
Paling Miskin 180 270
*) yang digolongkan kaum fakir adalah orang miskin sekali dan paling miskin
Untuk mengetahui kelompok sasaran (kaum fakir), Bandung Peduli melakukan survei, yang terdiri atas survei awal/wilayah, survei penentuan, dan survei pembagian. Dalam survei awal/wilayah, para relawan memetakan lokasi, mencatat data umum, mencapai contact person, dan menggalang partisipasi warga untuk menentukan calon penerima bantuan. Dalam survei penentuan, para relawan memeriksa hasil pendataan yang dilakukan contact person, kemudian melakukan cross check kepada tokoh masyarakat lainnya, dan menemui sebagian calon penerima. Pertemuan dengan calon penerima itu dimaksudkan untuk memeriksa apakah data yang diberikan contact person sesuai dengan keadaan sebenarnya. Selain itu, relawan juga melakukan wawancara untuk mengetahui cara keluarga itu bertahan hidup.
Selanjutnya dilakukan survei pembagian yang diharapkan bisa memperlancar pembagian, tanpa menimbulkan dak kecemburuan sosial. Dalam survei pembagian ini, relawan memeriksa kembali daftar calon penerima, dan menggalang partisipasi warga untuk pembagian. Kadang-kadang dilakukan pembagian kupon untuk yang berhak menerima bantuan. Dalam survei ini, para relawan juga mencatat potensi masyarakat desa, yang suatu saat bila “Bandung Peduli” mu, bisa dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat desa.
Jika kelompok relawan yang melakukan survei selesai, maka Bandung Peduli segera membagi bantuan yang ada. Yang terpenting dalam pembagian ini adalah masalah waktu dan jumlah sumbangan yang perlu disiapkan. Pada waktu membagi, tim relawan membagi bantuan sesuai dengan nama-nama yang diberikan tim survei, dan dalam membagi yang dibantu oleh tokoh masyarakat setempat untuk menjadi saksi, bahwa sumbangan benar-benar sai ke tangan yang berhak.
Salah satu yang penting untuk menjamin kelancaran kerja “Bandung Peduli” adalah kebijakan dalam keuangan. Secara umum “Bandung Peduli” menganut manajemen keuangan terbuka, yang setiap Rabu malam laporan keuangan disaikan dalam rapat. Sampai saat ini, “Bandung Peduli” menetapkan kebijakan bahwa seluruh bantuan dari para dermawan dibagikan untuk kaum fakir. Sedangkan biaya operasional, termasuk biaya survei, distribusi, administrasi, transportasi, konsumsi, dan lain-lain, berasal dari kantong relawan sendiri. Jika nanti “Bandung Peduli” menerima bantuan dari lembaga internasional, maka laporan keuangan disesuaikan dengan persyaratan umum yang diberikan oleh donatur serta diaudit oleh lembaga akuntansi publik.
Langkah Pengembangan Bandung Peduli
ATAS desakan relawan yang rata-rata adalah mahasiswa, “Bandung Peduli” didorong untuk mengembangkan dirinya, sehingga tidak seperti sinterklas, bagi-bagi hadiah dan kemudian pergi. Para mahasiswa menyarankan agar “Bandung Peduli” tidak sekadar memberi “ikan”, tapi memberi “kail” dan “keterilan mengail”. Latar belakang desakan itu adalah munculnya kekhawatiran bahwa jika “Bandung Peduli” dan kelompok lain hanya membagi bantuan saja, maka akan muncul ketergantungan dari masyarakat. Jika itu terjadi, maka berapa pun bantuan yang diberikan tidak akan cukup.
“Bandung Peduli” menyetujui saran para relawannya, tapi karena kemuan dana dan tenaga yang terbatas, maka yang baru dilakukan adalah mengamati potensi masyarakat desa tempat sumbangan itu diberikan. Dari pengamatan ini diharapkan bisa dianalisis, barangkali ada kesempatan untuk dikembangkan suatu saat nanti. Survei Potensi Ekonomi Desa mulai dikerjakan pada distribusi sumbangan ke 3 yaitu di Desa Padamukti, Majalaya. Pola survei ini terus disempurnakan, agar mudah dilaksanakan.
Dan Insya Allah, bulan September 1998, kegiatan “Bandung Peduli” akan ditambah dengan “Warung Peduli”, “Peningkatan Gizi Keluarga”, dan “Pengembangan Potensi Ekonomi Desa”.
Warung Peduli
PADA prinsipnya kegiatan “Warung Peduli” merupakan kelanjutan dari pembagian sembako. Dalam hal ini sumbangan tidak diberikan 100%. Jumlah sumbangan yang diberikan bergantung pada kekuatan masyarakat yang mau dibantu. Sedangkan penentuan masyarakat yang perlu dibantu ditentukan oleh tim survei.
Klasifikasi Penerima Bantuan lewat “Warung Peduli”
A. Kelompok Miskin membayar 75% dari harga pasar.
B. Kelompok Miskin Sekali membayar 50% dari harga pasar.
C. Kelomok Paling Miskin membayar 25% dari harga pasar.
Setiap tiga bulan sekali pengelompokan ini dievaluasi kembali, apakah ada kelompok C yang naik menjadi B, atau sebaliknya. Untuk mendukung keberhasilan program “Warung Peduli”, diperlukan pemantauan sebulan sekali. Program Warung Peduli ini akan dimulai pada bulan September 1998.
Peningkatan Gizi Keluarga
PROGRAM peningkatan gizi keluarga merupakan pengembangan dari “Warung Peduli”. Pada prinsipnya, kegiatan peningkatan gizi keluarga adalah kegiatan menuju kemandirian keluarga. Setiap keluarga didorong untuk menggunakan lahan yang dimilikinya untuk menanam sayur-mayur/palawija untuk mendukung gizi keluarga tersebut. Dengan upaya menanam sendiri, maka tiap keluarga dapat menghemat biaya.
Untuk mendukung kegiatan peningkatan gizi keluarga ini, “Bandung Peduli” berusaha menyiapkan benih tanaman, yang pendistribusiannya menumpang kegiatan “Warung Peduli”, dengan cara yang sama dengan “Warung Peduli” juga.
Pengembangan Potensi Ekonomi Desa
PENGEMBANGAN potensi ekonomi desa ini adalah kegiatan tertinggi yang dilakukan “Bandung Peduli”. Awal pengamatan sudah dilakukan sejak survei, pembagian sembako, dan terutama pada kegiatan “Warung Peduli”, dan peningkatan gizi keluarga.
Peserta kegiatan ini adalah orang-orang yang baru terlepas dari kemiskinan, atau orang-orang yang dianggap bisa didorong untuk berusaha. Pada dasarnya program diharapkan turut menjadi motor penggerak perekonomian desa.
Inti program pengembangan potensi ekonomi desa adalah memberi nilai tambah dari apa yang bisa diperbuat masyarakat desa itu, kemudian membantu pemasarannya. Di sing itu program ini juga membantu bagaimana mengelola sebuah usaha (dari manajemen keuangan yang sederhana sai dengan pemasaran).
Dalam melakukan program ini, “Bandung Peduli” akan bekerja sama dengan LSM lainnya dan Lembaga-lembaga Pengabdian Masyarakat pada universitas-universitas.
Kampanye
KAMPANYE “Bandung Peduli” difokuskan untuk Jawa Barat, dengan harapan tiap kota mempunyai kegiatan mirip “Bandung Peduli”. Bahkan jika memungkinkan diharapkan muncul gerakan serupa pada tingkat RW di seluruh Jawa Barat.
Bantuan yang diberikan “Bandung Peduli” dan kelompok yang serupa pada dasarnya hanyalah sebagai pancingan untuk menumbuhkan kembali semangat gotong royong dalam masyarakat. Dengan demikian yang diharapkan paling berfungsi adalah Ketua RT dan Ketua RW. Mereka diharapkan memantau keadaan warganya, apakah ada yang terancam kelaparan atau tidak. Jika ada yang terancam kelaparan, maka Ketua RT/RW menggalang kekuatan dari warganya yang mu untuk menolong yang kelaparan. Jika ternyata warga yang mu tidak kuat mengatasi ancaman kelaparan yang menimpa tetangganya, maka pemerintah wajib membantunya, dan LSM-LSM turut meringankan beban ancaman kelaparan itu.
Kaderisasi
Dalam pada itu “Bandung Peduli” melakukan pendidikan dan pelatihan bagi para relawannya, terutama yang menjadi mahasiswa. Hal ini perlu dilakukan karena mahasiswa itu mengalir terus, begitu lulus biasanya disibukkan mencari kerja dan bekerja. Pada saat itu “Bandung Peduli” harus tetap jalan, dengan cara melakukan kaderisasi, dan salah satu caranya adalah dengan pendidikan dan pelatihan yang dilakukan tiap 2 bulan sekali. Pendidikan dan Pelatihan itu meliputi teknik survei, manajemen distribusi, teknologi tepat guna, serta masalah-masalah yang berhubungan dengan pangan dan kelaparan.
Penutup
“Bandung Peduli” menyadari bahwa sumbangan yang diberikan untuk mengatasi kelaparan dan kemiskinan di Indonesia sangatlah kecil, apalagi bila dibandingkan dengan problem yang dihadapi Indonesia saat ini. Namun, “Bandung Peduli” yakin, sebagaimana samudera yang dibentuk dari bermiliar-triliun tetes-tetes air, maka sumbangan “Bandung Peduli” itu hanya bagai setetes air yang membentuk samudera. Bila kita mu menggabungkan seluruh potensi masyarakat untuk menghadapi ancaman kelaparan ini, maka insya Allah masalah ini akan bisa diatasi dengan baik.
“Bandung Peduli” juga yakin, bahwa untuk memberantas kelaparan di Indonesia, maka provinsi harus berusaha memberantasnya. Jika kita mau memberantas kelaparan di provinsi kita, maka masing-masing kabupaten/kotamadya harus turut memberantas kelaparan itu, demikian seterusnya, sehingga kelaparan di Indonesia dapat diatasi, bila tiap rukun tetangga turut serta memberantas kelaparan itu. “Bandung Peduli” adalah bagian dari gerakan kemanusiaan ini. (Muhammad Ridlo ‘Eisy)***
Penulis adalah aktivis pada “Bandung Peduli”.
Tulisan ini dimuat di H.U. Pikiran Rakyat, Edisi 27 Agustus 1998

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 16, 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: