RSS

SISTEM PONDOK

20 Apr

Pada umumnya migran berasal dari rumah tangga yang memiliki lahan sempit dan rata-rata berpendidikan rendah, serta berada dalam keadan “ketidak cukupan” tak cukup lahan untuk bertani, tidak cukup pendidikan untuk memperoleh pekerjaan dalam sektor formal, tidak cukup modal untuk berusaha sendiri.
Ketidak cukup ini mendorong mereka untuk melakukan usaha mandiri secara kecil-kecilan dengan menggunakan modal yang tidak begitu besar dan peralatan yang tidak mahal. Para migran sirkuler yang telah cukup lama melakukan sirkulasi desa kota dan telah berhasil menghimpun modal mencoba memulai mendirikan usaha dalam bidang usaha yang kurang menarik bagi para pemilik modal dari lapisan “elit kota”. Para migran sirkuler yang bergerak dalam “usaha sisa”, karena para pemilik modal umumnya tak tertarik untuk bergerak dalam usaha ini. Biasanya memulai usahanya dengan modal terbatas, Peralatan sederhana dan ketrampilan yang mudah dipelajari.
Keterbatasan modal, keterbatasan kemampuan dalam memanfaatkan ilmu dan teknologi, mereka imbangi dengan melaksanakan asas kerukunan atau asas kegotong royongan. Terjadinya kerjasama antara migran sirkuler yang memiliki jiwa wiraswasta dan mempunyai sedikit modal serta pengalaman dengan banyak migran sirkuler yang masih berada dalam posisi dependen tetapi mempunyai berbagai sifat positif untuk mengembangkan aktivitas ekonomi, merupakan persemaian yang subur bagi perkembangan sistem pondok.
Jenis-jenis usaha yang termasuk dalam kelompok “usaha tani” antara lain: usaha membuat dan menjual makanan “makanan jajan” atau minuman murah, usaha transport jarak dekat dengan tenaga bukan mesin (becak), usaha pengumpilan barang bekas untuk didaur ulang (kertas, plastik, logam, botol, karung bekas), usaha jual beli barang kebutuhan sehari-hari yang tidak tahan lama disimpan (sayur-mayur, ikan basah), usaha jual beli barang yang karena alasan tertentu kurang laku kalau dijual ditoko (hasil kerajinan bamboo yang berupa peralatan dapur, hasil kerajinan keramik kasar atau keramik untuk peralatan dapur, dan berbagai hasil kerajinan dari daerah pedesaan yang tidak mahal harganya).
Karena usaha jenis ini bersifat padat karya, maka diperlukan ketrampilan dalam pengelolaan hubungan antar azas manusianya. Dalam hal ini biasanya “azas kerukunan” atau “azas kekeluargaan” menjadi sendi utama, walaupun tujuan utama system pondok adalah keuntungan ekonomi. Di pihak majikan (pemilik modal) menghendaki laba yang lebih besar, sedang para penghuni pondok menghendaki penghasilan yang cukup sebagai sumber nafkah. Dalam sistem pondok diperlukan hubungan yang selaras antar pemilik pondok diperlukan hubungan yang selaras antara pemilik pondok dan juga adanya hubungan yang harmonis diantara sesama karyawan dan penjual. Demikian pula azas resprositas dijunjung tinggi dan dilaksanakan dalam system pondok.
Azas kerukunan atau azas kekeluargaan dapat terlaksana karena dengan melaksanakan azas tersebut semua pihak merasa mendapat keuntungan. Disamping itu diantara majikan dan karyawan atau penjual sering terdapat hubungan darah atau terdiri dari kawan-kawan yang berasal dari desa atau daerah yang sama.
MACAM SISTEM PONDOK
Dipandangan dari besarnya sumbangan tenaga kerja migran sirkuler (penghuni pondok boro) dalam proses produksi dan penjualan hasil sistem pondok dapat digolongkan dalam 4 kelompok:
1. Sistem pondok dimana setiap anggota mempunyai kedudukan sama.
Dalam sistem pondok ini tidak dikenal majikan atau bos atau tauke dan juga tidak ada karyawan. Kelompok ini dibentuk atas dasar kegotong royongan para anggota. Jumlah anggota kelompok rata-rata kecil, antara 8-12 orang. Hubungan dalam kelompok kuat, terdapat rasa saling percaya diantara sesama anggota.
Di Kotamadya Bogor sistem ini dilaksanakan oleh para migran sirkuler dari kabupaten Demak (Jateng) yang berjualan keramik dari kecamatan Mayong (Kabupaten Kudus, Jateng).
Untuk mendapatkan modal usaha mereka minta bantuan salah seorang “Bandar pengumpul” hasil kerajinan di Mayong. Bila permintaan mereka disetujui, bandar akan memberi kredit berupa barang dagangan (misalnya sejumlah 1 truk). Kemudian barang diangkut ke Bogor dengan biaya yang dibayar oleh Bandar tetapi sebagai kredit yang lunasi bila barang telah laku terjual. Disini tampak bahwa sistem ini diusahakan oleh penduduk desa yang banar-benar tidak bermodal. Kerusakan diserahkan oleh Bandar kelompok yang tanggung jawab terhadap kelompoknya. Barang tersebut disimpan dalam rumah yang dikontrak oleh kelompok untuk jangka waktu 1-2 bulan. Rumah kontrakan berfungsi sebagai tempat penginapan sekaligus gudang.
Tugas pokok dikota adalah selama mereka berada dikota adalah menjual barang sampai semua barang habis.setiap anggota sehabis pulang berjualan berkewajiban menyerahkan hasilnya dengan sejujurnya. Tampak betapa besarnya rasa saling percaya diantara anggota. Anggota yang ketahuan berbuat tidak jujur akan sulit mendapat kepercayan orang lain di kemudian hari. Hal ini menutup jalan untuk mencari nafkah.
Pada waktu sedang berjualan setiap anggota diperbolehkan menggunakan sebagian uang milik bersama untuk keperluan makan, namun jumlahnya biasanya tidak ditentukan. Tetapi semua anggota biasanya “tahu batas”, sehingga tidak perlu menimbulkan kecurigaan akan merugikan usaha bersama.
Lama jam kerja perhari tidak pula ditentukan. Semua sadar mereka perlu bekerja rajin agar cepat pulang ke desa. Anggota yang pulang jualan lebih awal mempunyai kewajiban memasak makanan untuk kepentingan makan malam semua anggota. Setelah semua barang laku terjual, semua hutang dilunasi dan semua biaya telah terbayar (transport, pemondokan, dan lain-lain), maka hasil keuntungan usaha bersama dibagi sama rata diantara anggota. Mereka berjualan dikota (Bogor) rata-rata 30-40 hari dalam 1 siklus sirkulasi. Hubungan antara anggota dilandasi oleh azas kekeluargaan atau azas kegotong royongan yang cukup kuat. System pondok semacam ini memang tepat bila disebut dengan istilah system pondok gotong royong.
2. Sistem pondok dimana kedudukan pemilik pondok (pengusaha pondok) berkedudukan lebih mirip dengan kedududkan “kepala rumah tangga” dari pada majikan dan kedudukan para penghuni pondok boro mirip dengan kedudukan “anggota rumah tangga” dari pada karyawan.
Jumlah anggota biasanya sedikit karena jenis usaha ini tergolong jenis usaha rumah tangga. Dalam tugas ini belum ada pembagian tugas membuat barang dengan tugas menjual hasil. Kedua tugas ini dirangkap oleh migran sirkuler yang bekerja di pondok boro. Tetapi dalam sistem pondok ini para migran sirkuler tidak dibebani tugas diluar perusahaan.
Antara pemilik pondok boro dengan para pembantunya terdapat hubungan yang dilandasi “azas kekeluargaan”. Pemilik pondok boro memperlakukan anggota rumah tangganya sendiri, bukan seperti seorang majikan memperlakukan karyawan perusahaan. Dalam ini pemilik pondok boro menyediakan penginapan, kebutuhan pangan, rokok, sedikit biaya pengobatan kalau migran sirkuler menderita sakit terkadang member bantuan uang kalau migran sirkluler akan pulang ke desa.
Produksi yang dihasilkan harus terjual pada hari yang sama untuk menghindari kerugian, (barang dagangan tidak tahan lama disimpan). Semakin singkat proses produksi, semakin panjang waktu yang dapat digunakan untuk menjual barang yang dapat digunakan untuk menjual barang, berarti semakin besar pula keuntungan yang diharapkan.
Karena produksi pondok boro sangat ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja, maka para migran sirkuler biasanya lama berada di kota dalam satu kali sirkulasi (misalnya setelah 6 bulan berada dikota baru pulang ke desa).
Sistem ini dilaksanakan dalam pondok boro penjual “bakso” para migran sirkuler dari Malang (Jatim) dan pondok boro penjual sate ayam dari Madura (Jatim). Karena hubungan-hubungan dalam sistem pondok ini mirip dengan hubungan dalam rumah tangga, maka sistem ini dapatlah disebut “sistem pondok rumah tangga”.
3. Sistem pondok dimana telah dikenal deferensi tenaga yang bertugas dalam proses produksi (karyawan) dengan tenaga yang bertugas dalam pemasaran hasil produksi (penjualan)
Kedudukan pemilik pondok boro lebih serupa dengan kedudukan seorang “majikan” dalam perusahaan perseorangan. Sistem pondok ini majikan tidak hanya mengelola proses produksi tetapi juga mengelola pemasaran hasil produksinya. Maka tampak bahwa sistem pondok dapat bekerja secara efektif dalam melaksanakan kegiatan usaha.
Hubungan majikan dengan karyawan lebih erat dari pada hubungan majikan dengan tenaga penjual. Tugas karyawan bekerja untuk proses produksi. Majikan memberikan imbalan berupa upah yang jumlahnya telah ditetapkan, bantuan penginapan, jaminan hidup (pangan), sedikit bantuan bila karyawan menderita sakit. Besar bantuan “ekstra” ini tidak ditetapkan lebih dahulu tetapi tergantung besar kecilnya usaha dan kebaikan hari majikan. Hubungn pemilik karyawan mirip dengan hubungan pemilik pondok boro dengan tenaga migran sirkuler (yang bekerja sebagai penjual dan karyawan) dalam sistem pondok rumah tangga.
Majikan menyediakan tempat penginapan bagi para penjual. Pada dasarnya majikan tidak terikat berbagai kewajiban pada para penjual. Sistem pondok berlaku “azas kekeluargaan” kadang-kadang majikan memberikan pinjaman uang kepada seorang penjual yang sedang membutuhkan bantuan (misalnya memperbaiki rumah, membeli tanah). Biasanya pinjaman dikembalikan dengan angsuran. Ada kebiasaan di pondok boro yang menampung migrant sirkuler dari desa “jauh”, para migran sirkuler menitipkan uang penghasilan yang belum dikirim ke desa, pada majikanya. Karena pada umumnya mereka cukup lama baru pulang kedesa, jumlah uang yang dititipkan cukup besar. Tindakan ini cukup positif ditinjau dari segi investasi, karena adanya kebiasaan ini penggunakan uang titipan manjadi lebih produktif.
Tugas utama para penjual adalah bekerja memasarkan hasil produksi pondok boro. Resiko menderita rugi dalam kegiatan jual beli ada kalanya ditanggung si penjual. Ada kalanya ditanggung majikan karena penjual hanya menerima komisi.
Sistem pondok demikian ini dilaksanakan dalam pondok boro produksi tahu yang dilaksanakan migran sirkuler dari Sumedang (Jawa Barat) dan dari Bumiayu (Jawa Tengah). Dalam sistem pondok ini biasanya telah digunakan teknologi atau peralatan yang cukup produktif, mempunyai sejumlah karyawan dan penjulan (puluhan). Oleh karena itu sistem pondok ini mirip dengan perusahaan perseorangan “sistem pondok usaha perseorangan”.
4. Sistem pondok dimana pemilik pondok tidak melibatkan diri dalam kegiatan produksi ataupun pemasaran barang.
Pemilik pondok hanya menyewakan tempat untuk penginapan, kadang-kadang juga menyewakan tempat untuk usaha, mesin untuk produksi, peralatan untuk menjual barang dan menjual bahan baku untuk produksi. Para migran sirkuler yang tinggal dipondok boro berperan sebagai produsen kecil yang mandiri sekaligus sebagai penjual hasil produksinya sendiri.
Dalam produksinya barang dagangan mereka menggunakan mesin dan peralatan milik si pemilik pondok boro, ditempat yang telah tersedia. Bahan baku untuk membuat barang dibeli dari pemilik pondok. Sebagai imbalan para mogran sirkuler membayar uang sewa (besar uang sewa didasarkan kemampuan produksi masing-masing). Setelah selesai memproduksi barang para migran sirkuler menjual hasil produksinya dengan tenaga sendiri ke pasar atau “ider” (bahasa Sunda, Jawa) dari kampung ke kampung dengan peralatan kepunyaan pemilik pondok boro. Karema hubungan pemilik sirkuler adalah hubungan sewa menyewa maka hubungan tersebut agak renggang, hubungan yang bersifat kekeluargaan kurang jelas.
Dalam sistem pondok boro ini pemilik pondok tidak berperan sebagai majikan dan para migran sirkuler berperan sebagai karyawan. Oleh karwena itu hubungan antara ke dua pihak agak renggang. Sistem ini dilaksanakan dalam pondok boro produksi tahu migran sirkuler dari Ciamis (Jabar) di Cimanggu (Bogor Jawa Barat).
Hubungan antar pemilik pondok boro dengan migran sirkuler lebih renggang lagi kalau antara ke dua belah pihak hanya terikat hubungan sewa menyewa rumah (penginapan) lebih-lebih bila pembayaran uang sewa dilakukan setiap hari. Dalam pondok ini para migran sirkuler bekerja dengan modalnya sendiri, peralatan miliknya sendiri, memakai tenaga sendiri.. karena dalam sistem pondok ini hubungan pemilik pondok boro dengan migran sirkuler yang tinggal di pondok boro miliknya dirandai hubungan sewa menyewa, maka system ini disebut “sistem pondok sewa”
Disamping keempat sistem itu terdapat sistem pondok yang merupakan campuran. Misalnya, dalam pondok boro usaha krupuk (yang dilakukan oleh migran sirkuler dari Ciamis) terdapat pemisahan antara tenaga pembuatan krupuk (karyawan) dan tenaga penjual. Tetapi para penjual perlu menggoreng krupuk mentah yang dibeli dari majikan, dengan menggunakan alat pengorengan milik majikan di temnpat usaha majikan pula. Namun demikian mereka tidak mendapat imbalan berupa upah atau jaminan makan.
Ada pula sistem pondok yang tidak mempunyai karyawan, karena pondok tersebut tidak memproduksi barang, tetapi hanya menampung para penjual saja. Hampir semua pemilik pondok boro berperan sebagai pelindung para penghuni pondok. Pemilk pondok boro bertanggung jawab atas kehadiran migran sirkuler di pondok boro miliknya, berttanggung jawab pada urusan administrasi dari para penghuni pondok ditingkat RT/RW atau tingkat desa. Pemilik pondok boro miliknya berada dalam keadaan damai, tenang dan tentram, sehingga migran sirkuler dapat memusatkan pikiran dan tenaganya untuk bekerja mencari nafkah.
Dilihat dari jenis kegiatan yang dilakukan oleh penghuninya, pondok boro dapat dibedakan menjadi 3 macam:
1. Pondok boro buruh
Pondok boro yang penghuni bekerja sebagai buruh, misalnya sebagai pengemudi becak
2. Pondok boro penjual
Para penghuni pondok bekerja sebagai penjual barang, misalnya sebagai penjual barang kerajinan daerah pedesaan, sebagai penjual sayur.
3. Pondok boro produksi
Pondok boro ini disamping sebagai tempat kadiaman juga digunakan untuk berproduksi. Misalnya pondok boro produksi tahu,, pondok boro produksi kerupuk.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 20, 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: