RSS

positif dan negatif pola konsumtif

23 Nov

TANGGAPAN Sofyan Syahnur (“Budaya Konsumtif”, Serambi, 19/06/10; selanjutnya disebut SS) terhadap tulisan saya (“Budaya Konsumtif”, Serambi, 05/06/10), menurut saya menarik untuk didiskusikan kembali. SS mengingatkan saya untuk menelaah dan mencermati masing-masing dua hal. Terdapat dua hal yang diminta SS agar saya menelaah kembali, dan hal ini menjadi penting diklarifikasi lebih lanjut. Pertama, mengenai tahun 1960, yang saya sebut yang mengutip tesa Malthus. Sebenarnya, pola penyebutan tahun seperti ini bukanlah hal yang baru. Para ahli filsafat yang hidupnya masa Sebelum Masehi pun, ketika karyanya direproduksi, diterbitkan ulang, diterjemahkan dsb, maka akan disebutkan tahun dari karya yang direproduksi tersebut, bukan tahun ia hidup. Jadi penyebutan tahun, dalam hal ini adalah penanda karya direproduksi. Benar bahwa Malthus hidup dua abad sebelumnya, namun bukankah karyanya telah direproduksi sedemikian rupa?

Kedua, inti teori Malthus yang disebut SS tentang “percepatan pertumbuhan penduduk yang jauh tidak seimbang dengan pertumbuhan jumlah makanan”, sepertinya tidak terkurangi makna dari apa yang sudah saya tuliskan. Dalam tulisan sebelumnya, saya menyebutkan mengenai “evolusi pelipatgandaan” manusia. Menurut saya (maaf bila saya keliru), tidak ada perbedaan hakiki antara kedua “sebutan” tersebut. “Pelipatgandaan” manusia dalam tulisan saya terkait dengan inti tulisan, yakni pola konsumsinya yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Di samping itu, hal yang harus saya cermati sebagaimana diingatkan SS, yakni: Pertama, ketidaktepatan penggandengan kata “budaya” dengan “konsumtif”. Menurutnya, yang lebih tepat, penggandengan kata “perilaku” dengan “konsumtif”. Dalam hal ini, SS benar. Namun demikian, saya juga tidak menampik bahwa penggabungan “budaya” dan “konsumtif” bukanlah hal yang keliru dengan sejumlah catatan yang sudah saya ungkapkan di tulisan saya sebelumnya. Di sini, saya berpendapat bahwa ada perilaku yang sedang bergerak massif. Perilaku-perilaku yang tidak saja dilakukan orang kaya, tapi juga orang miskin, mengenai penggunaan barang-barang yang berasal dari bahan baku hijau. Banyak barang yang ngetrend, tapi kurang (malah tidak) dibutuhkan. Bukankah gejala ini, sepadan dengan beberapa konsep “konsumtif” yang diungkapkan SS?

Di samping itu, dengan sebuah perspektif “konsumtif”, SS memaparkan hasil sebuah kajiannya (2009) mengenai perilaku konsumtif tersebut. Konsep dari kajian tersebut, menurut saya sangat bermakna “materil”. Seyogianya, menurut saya, perilaku konsumtif tidak boleh dilihat terlalu “materil” seperti itu. Pendapat dalam makna “materil” tersebut memungkinkan lahirnya pendapat bahwa hanya “orang-orang yang berada” saja yang memungkinkan untuk berperilaku konsumtif. Sedangkan menurut saya tidak demikian. Orang miskin sekalipun (yang disebut SS sangat mustahil memiliki perilaku konsumtif) bisa saja berperilaku konsumtif tersebut. Kedua, mengenai kandungan unsur positif dan negatif dari “konsumtif” tersebut. Mengenai bagaimana cara memandang unsur positif dari “konsumtif”, saya tidak setuju dengan SS. Saya tidak setuju penggunaan sumberdaya lingkungan (fokus tulisan saya sebelumnya tentang lingkungan hidup) untuk “menarik” unsur positif dari “konsumtif” yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi. Pendapat saya berpatokan pada konsep kesejahteraan yang holistik, tidak saja diukur dengan “seberapa yang didapat”, tapi pada “sejauhmana tidak menimbulkan sesuatu yang harus diobati”. Logikanya, dalam satu bentuk konsumsi barang yang bersumber dari bahan baku berbasis lingkungan, memang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun bila abai terhadap ekses yang ditimbulkan terhadap masyarakat yang mengalami pertumbuhan ekonomi tersebut, akan berakibat biaya sosial tinggi yang juga harus diperhitungkan.

Hal ini sudah terlihat di kota-kota besar. Konsumsi barang yang secara nyata meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pada saat bersamaan menimbulkan berbagai persoalan yang juga membutuhkan biaya untuk menyelesaikannya. Mengantisipasi masalah besar tersebut, sebelumnya saya sudah menawarkan pentingnya semua orang bergerak untuk menggunakan sesuai kebutuhan. Untuk melengkapi tawaran tersebut, pada tataran konsep, sebenarnya sangat dibutuhkan peleburan dari semua bidang ilmu untuk mengantisipasi masalah tersebut.

Konsep semua orang yang harus menggunakan menurut kebutuhan (dalam agama kita kenal dengan pesan “makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang”), diimbangi dengan pola pemaknaan yang tidak sebidang-sebidang. Pada masa depan, kita diharapkan pada berbagai persoalan yang tidak bisa lagi dihadapi dengan bidang per bidang semata. Saya tetap berpegang pada keharusan lokal dan global sekarang ini adalah tidak memilah-milah konsep pengembangan ilmu dan pembangunan antara satu bidang dengan bidang lainnya. Harus ada semangat untuk mengembangkan ilmu dan pembangunan yang saling terkait, sehingga apapun konsep dan kenyataannya, diharapkan dua-duanya bisa holistik.

Ketika Orde Baru berkuasa telah memberikan kepada kita banyak pelajaran. Pada waktu itu disebutkan bahwa “hukum adalah menjadi panglima”, “pertumbuhan ekonomi adalah raja”, “industrialisasi adalah landasan pembangan masa depan”, dsb. Sekarang, setelah satu dekade Orde Baru runtuh, dengan pola pencapaian pembangunan yang saling terpisah-pisah, tampak tidak membawa hasil. Hukum tidak bisa menjadi panglima, bukan saja karena berbagai faktor hukum itu sendiri, namun juga keterkaitannya dengan kesejahteraan. Demikian pula dengan pertumbuhan ekonomi, adalah nol besar bila hanya bertumpu pada sumberdaya alam (sebagaimana negara-negara besar mengawinkan sumberdaya manusia, teknologi, dan sumberdaya alam). Industrialisasi yang melupakan basis agraris juga bukan jalan penyelesaian.

Mengantisipasi “budaya konsumtif” bisa menjadi bentuk mini dari keharusan berpikir holistik menghadapi berbagai persoalan di atas. Dan perilaku konsumtif sebagian masyarakat kita sudah bergerak ke arah “jamak” dan “lazim”. Makanya saya menyebut “budaya konsumtif” atau “budaya perilaku konsumtif”. Apa yang sudah saya ungkapkan di atas, seyogianya dapat kita diskusikan lebih mendalam dan mendapat manfaat bagi banyak orang.

Bagaimana pun tanggapan saya dari tulisan ini, bukan berarti saya manusia yang serba sempurna. Tulisan saya sebelumnya barangkali juga memiliki banyak kelemahan. Makanya terbuka bagi siapa saja untuk mendiskusikannya -dimana saya juga akan mendapatkan banyak pengetahuan. Atas dasar tersebut, tanggapan yang diberikan SS sekaligus juga menjadi tambahan pengetahuan saya, hal yang membuat saya harus banyak berterima kasih.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 23, 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: